"Apa yang terjadi?"

Pertanyaan itu melintas dalam benak Lynx saat kesadarannya perlahan pulih. Segalanya masih terasa kabur, tapi satu demi satu potongan peristiwa mulai menyusun gambaran yang sempat hilang. Ingatan tentang rasa sakit tajam, energi yang seketika lenyap, dan... cairan asing yang entah sejak kapan ada di tubuhnya.

Lynx segera duduk tegak. Ia mengatur napas, menarik udara dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Tubuhnya terasa ringan, kondisi tubuhnya terasa sudah pulih tapi dia harus memastikannya lagi. Ia langsung bersila, menutup mata, dan memasuki keadaan meditasi. Dalam keheningan pikirannya, ia menelusuri setiap bagian dari tubuhnya, memastikan apakah masih ada gangguan yang tertinggal.

Setelah beberapa saat, Lynx membuka mata. Sorot matanya kembali tajam, meski ada sedikit keraguan di dalamnya.

"Tubuhku sudah pulih," gumamnya pelan. "Benda itu menyelamatkanku lagi. Tapi... cairan tadi, apa sebenarnya? Sejak kapan ada di tubuhku?"

Pikirannya melayang pada pertemuannya dengan Jelita di kota Zhurong. Ia sempat menerima segelas air darinya.

"Apakah itu karena air yang diberikan Jelita? Tidak mungkin. Dia bukan orang seperti itu. Dia tidak akan memiliki benda seaneh itu, apalagi menggunakannya padaku."

Lynx menghela napas dan mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

"Ataukah... ini efek dari serangan Leena? Tapi tidak masuk akal, efeknya baru muncul sekarang. Atau mungkin... ini ulah jiwa tua yang terkutuk itu, di Pagoda Qingling."

Pikirannya semakin kusut. Dadanya terasa sesak memikirkan kemungkinan yang tak kunjung jelas. Jika bukan karena benda asing menjadi pelindungnya, mungkin kini ia sudah kehilangan kekuatannya.

"Apa pun penyebabnya, cairan itu mampu menetralkan kekuatan fisikku. Aku tidak bisa membiarkan ini terulang. Untuk sementara waktu, aku akan menyembunyikan kemampuan tubuhku. Tidak boleh ada yang tahu, sampai aku menemukan siapa pelakunya dan apa tujuannya."

Ia menarik napas panjang, lalu berdiri perlahan. Matanya memandang lurus ke sebuah arah, ke sebuah titik yang hanya bisa dirasakan oleh indra tajamnya.

"Perampok itu... Dia menyebut energi iblis. Ada sesuatu yang dia tahu. Aku harus menemukan dan menginterogasinya."

Tanpa membuang waktu, Lynx menekuk lutut dan melesat ke antara pepohonan. Tubuhnya nyaris tak bersuara saat bergerak. Ia melompati akar-akar besar dan menapaki batang-batang pohon dengan kecepatan luar biasa.

Bayangan tubuhnya berkelebat di antara dedaunan, ranting-ranting hanya sempat bergetar pelan sebentar sebelum kembali diam. Keheningan hutan tak terusik oleh gerakannya, seolah alam pun tidak sanggup menangkap jejaknya.

Lynx tidak menyadari satu hal. Dalam kecepatan luar biasa itu, sosoknya yang sedang dicari oleh seorang wanita justru membuat wanita itu tak mampu lagi menemukan keberadaannya. Begitu pula Lynx, yang terlalu fokus mengikuti jejak para perampok. Melalui kepekaan yang dilepaskannya ke arah kawanan perampok melarikan diri, ia merasakan kehadiran beberapa orang di tengah hutan yang diperkirakan sebagai kelompok perampok tersebut. Ia tidak menyadari bahwa jaraknya dengan wanita yang tengah mencarinya tidak terlalu jauh. Pertemuan Lynx dengan salah satu sosok yang sedang dicarinya hampir terjadi, namun kembali terlewat.

"Jika mereka pernah melihat energi iblis, mungkin aku bisa mendapatkan petunjuk tentang fragmen senjata iblis."

Kalimat itu terngiang dalam benaknya. Setiap langkahnya membawa kekuatan dan keteguhan, pikirannya tertuju pada satu tujuan.

Sementara itu, di sebuah pondok kecil yang tersembunyi di tengah lebatnya hutan, pemimpin perampok duduk terpaku di ujung salah satu anak tangga kayu. Cahaya redup dari tungku tua hanya menyinari sebagian wajahnya, menyisakan bayangan yang membuat sorot matanya tampak semakin kosong dan cemas.

Bukan kematian anak buahnya yang membekas dalam pikirannya. Bukan pula karena gadis asing yang muncul tiba-tiba dan membantai mereka. Tapi karena sosok lain. Sosok yang hanya muncul dalam sekejap namun menyisakan teror yang menggigit hingga ke tulang.

Ia menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Kedua tangannya menggenggam lututnya erat, seakan berusaha menghentikan gemetar yang masih terasa di sekujur tubuh.

Di belakangnya, terdengar langkah kaki pelan mendekat. Salah satu anak buahnya muncul dari balik bayangan. Seorang pria bertubuh besar dengan wajah penuh luka dan sorot mata tak kalah gelisah. Ia berhenti beberapa langkah dari tangga, berdiri kaku seolah takut mendekat lebih jauh.

"Pimpinan..." Suaranya pelan, hampir seperti bisikan yang tercekik. Dia teringat kejadian saat energi iblis mengamuk dan membuat siapa saja warga yang menyentuh menjadi gila dan saling membunuh. "Bagaimana kalau orang itu mengejar kita? Kita... kita bahkan bisa mati hanya karena bersentuhan dengan energi iblisnya."

Nada suaranya bergetar. Wajahnya tampak pucat pasi, dan matanya menatap tanah dengan ketakutan. Ia menahan napas, seolah berharap sang pimpinan akan memberikan jawaban yang menenangkan. Tapi dalam hati kecilnya, ia tahu. Harapan itu nyaris mustahil.

Pondok itu sunyi. Api di tungku menyala perlahan, menari tanpa suara. Di tengah hening itu, ketakutan mereka mulai tumbuh lagi, perlahan namun pasti, seperti kabut dingin yang menyusup ke dalam tulang.

Di dalam dunia kecil yang sunyi dan tenang, Leena duduk bersila di atas hamparan rumput putih kehijauan, tubuhnya dikelilingi oleh cahaya lembut yang menyerap perlahan ke dalam pori-porinya. Ia tengah bermeditasi, mencoba menstabilkan aliran energi di dalam tubuhnya.

Tiba-tiba, jiwanya serasa tertarik. Kegelapan muncul di sekitarnya, dan dari balik kegelapan muncullah sosok perempuan cantik berambut panjang yang melayang. Gaunnya berkibar lembut bagaikan api yang berkobar, dan sorot matanya tampak menilai dengan tajam.

"Aku harap tidak membuatmu terkejut karena memanggil jiwamu ke dalam lautan kesadaranmu" suara Yan Ruyan terdengar lembut dengan senyum di wajahnya.

Leena menatapnya dengan ragu. "Bukankah Dewi mengatakan akan bermeditasi untuk memulihkan diri?"

Yan Ruyan melangkah perlahan mendekat, tangan disilangkan di belakang punggung. "Aku merasa ada hal penting yang harus kita bicarakan. Sejujurnya, aku cukup terkejut. Kekuatanmu berkembang jauh lebih cepat dari yang kuduga. Saat aku memberimu seberkas kekuatanku dulu, kau bahkan belum menjadi seorang kultivator"

Leena mengangguk perlahan. "Itu semua berkat kekuatan yang Anda berikan, Dewi"

"Tidak semata-mata karena kekuatanku" Yan Ruyan menggeleng pelan dan berhenti tepat di hadapan Leena. "Aku sudah memeriksa tubuhmu. Bukan hanya kekuatan itu yang membuatmu cepat mencapai ranah ini. Kau memiliki tubuh khusus yang sangat langka. Namanya Tubuh Seribu Jalur Roh. Dengan tubuh ini, jika dipadukan dengan teknik yang tepat, kecepatan kultivasimu bisa melampaui orang lain berkali lipat"

"Tubuh Seribu Jalur Roh?" Leena menatapnya dengan dahi mengernyit. "Apa itu...?"

"Tubuhmu ini adalah impian banyak kultivator dan banyak para kultivator jiwa yang pasti menginginkan tubuhmu ini. Tetap sayang sekali..." gumam Yan Ruyan, senyum kecil terulas di sudut bibirnya. "Seseorang sekuat Lynx malah tidak mengajarimu satu teknik pun. Padahal, jika dia melakukannya, kekuatanmu bisa melesat jauh lebih cepat dari sekarang"

Nada suaranya mengandung sindiran. Leena mengangkat kepala dengan cepat, nada suaranya sedikit menegang. "Lynx bukan tidak mau mengajariku. Dia hanya terlalu sibuk. Ada banyak hal penting yang harus dia urus"

"Hal penting?" Yan Ruyan terkekeh pelan, matanya menyipit. "Kalau dia memang sehebat itu, seharusnya bisa meluangkan sedikit waktu untuk orang-orang di sekitarnya. Tapi nyatanya, tidak ada satu pun yang dia latih dengan sungguh-sungguh. Dia terlalu sibuk dengan urusan yang tidak menghasilkan apa-apa"

Leena menggeleng cepat, suaranya terdengar lebih tegas. "Apa yang dilakukan Lynx sangat penting. Dia..."

"... mencari penduduk Surya, bukan?" potong Yan Ruyan dingin. Tatapannya tajam seperti bilah es. Selama berada di laut kesadaran Leena, Yan Ruyan sudah dapat menyusun berbagai informasi yang masuk, "Sadarlah, Leena. Cepat atau lambat, mereka semua akan mati. Mereka bukan kultivator. Usia mereka terbatas. Berbeda dengan kita. Umur panjang, kekuasaan, bahkan keabadian hanya bisa diperoleh melalui kultivasi. Itulah satu-satunya cara. Mengejar orang-orang lemah hanya akan membuang waktu"

Leena mengepalkan tangan. "Tidak. Bagi kami, nyawa mereka sangat berharga. Lynx dan aku tidak bisa menutup mata saat orang-orang menderita. Aku... aku akan melakukan apa pun untuk menyelamatkan mereka. Kalau mereka hanya memiliki hidup yang singkat, maka aku akan memastikan itu hidup yang bahagia"

